Materi Pecinta Alam

Minggu, 30 Desember 2012

Faktor Kepadatan Bebas "Density Independent" Terkait Pola Rekrutmen dalam Biologi Perikanan


Densitas populasi menunjukan besarnya populasi dalam satuan ruang. Umumnya
dinyatakan sebagai jumlah individu atau biomas persatuan luas atau volume. Densitas
dalam studi atau kajian ekologi memiliki fungsi yang sangat besar, karena pengaruh populasi
terhadap komunitas dan ekosistem tidak hanya jenis organismenya saja tetapi juga jumlahnya
atau densitasnya. Densitas juga dapat digunakan untukmengetahui perubahan populasi pada suatu saat tertentu (berkurang atau bertambah).
Densitas populasi dalam ekosistem dapat diukur dan ditentukan melalui dua cara
yaitu:
1. Densitas kotor (Crud density): Jumlah individu suatu populasi per satuan areal
seluruhnya
2. Densitas efektif atau dikenal sebagai kerapatan ekologi yaitu jumlah individu suatu
populasi per satuan ruang habitat

Densitas populasi apabila fluktuasinya kita perhatikan maka akan dapat kita gunakan
untuk menentukan faktor-faktor yang mengontrol ukuran dari populasi. Faktor-faktor itu
dikenal dengan istilah faktor kepadatan bebas (density independent) dan faktor kepadatan
tidak bebas ( density dependent). Density independent merupakan faktor perubahan
lingkungan yang berpengaruh terhadap anggauta populasi secara merata. Sebagai contoh,
tsunami yang menimpa sebagian Aceh dan Sumatra Utara akan mematikan semua anggota
populasi tertentu. Secara umum ketersediaan makanan merupakan density dependen,
demikian juga kompetisi, penyakit dan peristiwa migrasi.


Faktor – faktor yang  mempengaruhi density independent :

a.    Erupsi gunung berapi akan menimbulkan lahar panas yang mengaliri sungai-sungai dilereng gunung. Erupsi ini akan membuat beberapa spesies ikan lokal di sungai itu mengalami kepunahan, sehingga populasinya juga hilang.
b.   Kekeringan yang melanda KJA di waduk akan membuat kadar salinitas meningkat karena suhu panas   akan mempercepat evaporasi, hal ini akan membuat ikan stress dan mati.
c.    Hujan deras apalagi bersifat asam membuat perairan bergeser nilai pH-nya kemudian akan berdampak  pada populasi ikan yang peka terhadap perubahan pH.
d.   Perubahan iklim yang ekstrem akan membuat pertumbuhan ikan relatif stagnan atau bergerak lambat. Secara perlahan hal ini akan membuat jumlah populasi ikan menurun.  Perubahan iklim dapat mengubah rantai makanan laut secara keseluruhan dan sumberdaya perikanan khususnya, karena perubahan iklim akan mempengaruhi kadar oksigen terlarut di perairan.
e.    Berubahnya rantai makanan akan membuat struktur populasi ikan berubah. Fenomena ini sudah banyak teramati di Indonesia, antara lain ditandai dengan bergesernya musim ikan, dan berubahnya fishing groundkelompok ikan jenis tertentu.
f.    Suhu perairan yang tidak stabil akan mempengaruhi distribusi dan kemampuan reproduksi ikan. Terhadap perikanan budidaya perubahan ini juga akan berdampak antara lain melalui pengaruh berbahaya kualitas air, peningkatan penyakit pest dan penyakit-penyakit lainnya.

sumber : staff.uny.ac.id/sites/default/files/Handout%20Ekologi_0.pdf
              http://destririzkiarifelia.blogspot.com/2012/09/laporan-densitas-po.html


Rabu, 26 Desember 2012

Mahameru , Tanah Tertinggi di Pulau Jawa



Mahameru, adalah sebutan terkenal dari puncak Gunung Semeru dengan ketinggian ± 3.676 meter diatas permukaan laut (mdpl), menempatkan diri sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung Semeru termasuk salah satu dari gunung berapi yang masih aktif di Jawa Timur, terletak diantara wilayah Administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang dengan posisi geografis antara 7°51’ - 8°11’ Lintang Selatan, 112°47’ - 113°10’ Bujur Timur.

Puncak Gunung Semeru (Mahameru) dapat terlihat dengan jelas dari Kota Malang dan beberapa tempat lainnya dengan bentuk kerucut yang sempurna, tapi pada kondisi yang sebenarnya di puncak berbentuk kubah yang luas dengan medan beralun disetiap tebingnya. Kawah Jonggring Saloko pada tahun 1913 dan tahun 1946 mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava kebagian selatan daerah Pasirian, Candipura dan Lumajang.



Gunung Semeru adalah bagian termuda dari Pegunungan Jambangan tetapi telah berkembang menjadi strato-vulkano luas yang terpisah. Aktivitas material vulkanik yang dikeluarkannya berupa Letusan abu, lava blok tua dan bom lava muda, Material lahar vulkanik bercampur dengan air hujan atau air sungai, Letusan bagian kerucut yang menyebabkan longsoran, Pertumbuhan lambat/berangsur dari butiran lava dan beberapa kali guguran lahar panas.

Formasi geologi Gunung Semeru merupakan hasil gunung api kwarter muda, dengan jenis batuan terdiri dari : abu pasir/tuf dan vulkan intermedian sampai basis dengan fisiografi vulkan serta asosiasi andosof kelabu dan regosol kelabudengan bahan induk abu/pasir dab tuf intermedian sampai basis. Bentuk struktur geologi menghasilkan batuan yang tidak padat dan tidak kuat ikatan butirannya, mudah tererosi dimusim penghujan.



Jenis tanahnya adalah regosol, merupakan segabungan tanah dengan sedikit perkembangan profil dengan sedikit perkembangan profil dengan solum dangkal, tipis pada bahan induk kukuh. Pada umumnya ditempat tinggi lainnya, daerah sepanjang route perjalanan dari mulai Ranu Pane (2.200 m dpl) sampai Puncak Semeru mempunyai suhu relatif dingin. Suhu rata-rata berkisar antara 30C–80C pada malam dan dini hari, sedangkan pada siang hari berkisar antara 00C–120C kadang-kadang pada beberapa daerah terjadi hujan es yang terjadi pada saat perubahan musim hujan ke musim kemarau dan sebaliknya.

Dinginnya suhu disepanjang route perjalanan ini bukan semata-mata disebabkan oleh udara diam tetapi didukung oleh kencangnya angin yang berhembus ke daerah ini menjadi udara semakin dingin. Berdasarkan topografi kawasan secara makro, pada tiupan angin membentuk pola yang tidak menentu dalam arti dominasi arah angin sulit ditentukan selalu berubah-ubah. Bentuk topografi yang dilingkari oleh tebing tinggi sekitar 200-500 meter sebenarnya memungkin dapat menahan arus kecepatan angin, tetapi karena banyak celah/lorong tebing tersebut, maka arus angin tidak tertahan bahkan melaju dengan kecepatan yang lebih cepat.

Topografi dan Iklim

Bentuk topografi yang berupa cekungan sering terjadi angin siklus. Angin yang bertiup dikawasan ini berkaitan erat dengan pola angin disekitarnya, yaitu Angin tenggara atau angin Gending, Angin timur laut dan Angin barat laut.

Kecepatan angin yang terjadi cukup kuat antara 8–30 knots, dimana saat musim angin kencang banyak dijumpai pohon tumbang. Angin ini bertiup antara bulan Desember – Pebruari, dan untuk mencegah bahaya disarankan agar wisatawan/pengunjung tidak melakukan pendakian ke gunung semeru.

Merupakan hal yang biasa bila terjadi kabut sepanjang route perjalanan pendakian pada pagi hari dan sore hari sampai malam hari. Didaerah Ranu Kumbolo dan Kalimati sebagai tempat untuk menginap/bermalam selalu ditutupi kabul yang tebal.

Keberadaan kabut yang terjadi didua tempat tersebut selain dinginnya suhu udara (proses kondensasi udara), juga angin yang bertiup didaerah tersebut sambil membawa kabut. Khusus di daerah Ranu Kumbolo dengan adanya danau yang cukup luas menjadi pendukung pembentukan kabut karena proses penguapan air danau.

Secara umum keadaan iklim di wilayah gunung Semeru dan sekitarnya termasuk type iklim B (Schmidt & Ferguson) dengan curah hujan antara 927 mm – 5.498 mm pertahun dan hari hujan 136 hari/tahun. Musim hujan jatuh sekitar bulan Nopember–April. Suhu udara di puncak Gunung Semeru pada bulan – bulan tersebut berkisar antara 2 derajat celcius – 4 derajat celcius.

Vegetasi dan Keanekaragaman Hayati

Vegetasi yang berada di wilayah Gunung Semeru dan sekitarnya yang termasuk dalam Zona Sub Alfin di dominir oleh jenis pohon Cemara Gunung (Casuarina Junghuhniana), Jumuju (Podocarpus sp), Mentigi (Vacinium varingifolium), Kemplangdingan (Albazialophanta) dan Akasia(Accasia decurrens).



Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominasi oleh Alang – alang (Imperata Cylindrica), Kirinyuh (Euphatorium odoratum), Tembelekan (Lantana camara), Harendong (Melastomo malabathicum) dan Edelwiss putih (Anaphalis javanica). Pada lereng – lereng yang curam menuju puncak Semeru sekitar Arcopodo dijumpai jenis paku-pakuan seperti Gleichenia volubilisGleichenia longisulus dan beberapa jenis anggrek endemik yang hidup di wilayah Semeru selatan.

Disekitar Gunung Semeru pada ketinggian lebih dari 3.100 meter dari permukaan laut, kondisinya merupakan batuan, pasir dan abu tanpa vegetsi sama sekali. Kehidupan fauna yang terdapat di sekitar Gunung Semeru sangat terbatas, baik jumlah maupuan jenisnya yang terdiri dari beberapa jenis burung, primata dan satwa liar lainnya, antara lain Macan Kumbang (Panthera pardus), Kijang (Muntiacus muntjak), Kancil (Tragulus Javanica) dan lain – lain. Di Ranu Kumbolo terdapat Belibis (Anas superciliosa) yang masih hidup liar.

Rute Pendakian

Pada bulan-bulan libur sekolah, pendakian menuju Gunung Semeru bakal rame. Ranu Kumbolo yang menjadi favorit para pendaki dan sekaligus sebagai camp sementara untuk istirahat sebelum menuju puncak akan berubah menjadi perkampungan baru para pendaki dari berbagai penjuru. Untuk Menuju daerah awal pedakian kita bisa mengunakan dua jalur yaitu dari arah Senduro – Lumajang dan Tumpang-Malang.

Jalur Senduro–Lumajang

Jalur ini relatif sepi bagi pendakian karena belum begitu terkenal di kalangan pendaki, Akses transportasi juga masih agak susah dijumpai untuk menuju ke Ranu Pani dari Senduro. Bila kita melewati jalur sini kita bisa menikmati hutan hutan yang masih relatif alami dan tempat persembahyangan agama hindu di Senduro yang merupakan pura terbesar di Jawa. Dari Senduro ke Ranupani membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan bermotor. Dari setelah tiba di Ranupani perjalanan sama dengan jalur Tumpang –Malang.

Jalur Tumpang - Malang

Pendakian dari arah Malang merupakan jalur favorit karena ketersedian akses tranportasi dan akomodasi yang mudah di dapat. Kota malang yang merupakan kota yang memiliki banyak panorama alam yang indah serta tempat tujuan wisata yang mudah dicapai. Kota yang dijuluki sebagai tempat belajar yang nyaman ini memungkinkan kita berkunjung ke pencinta alam salah satu perguruan tinggi yang terdapat di kota ini. 



Dari Kota Malang perjalanan di lanjutkan menuju ke Tumpang via Terminal Arjosari dengan Angkot selama + 30 menit. Di Tumpang kita bisa langsung naik jeep dengan tarif berkisar Rp.15.000 sampai 25.000,- atau Truk yang menuju ke Ranupani. Disini kita bisa juga bermalam di tempat pemilik jeep bila kita kemalaman dan besoknya melanjutkan perjalanan. Logistik bisa di dapat di sini serta sarana telepon juga sudah banyak.

Dari Tumpang perjalanan dilanjutkan ke Ranu pani dengan melewati Gubuklakah, yang merupakan Desa penghasil apel lalu Ngadas, Tempat Suku tengger bermukim serta Jemplang–Bantengan ( Disini pemandangan ke Gunung Bromo nampak bagaikan hamparan permadani bila awal musin hujan mulai atau akan berahkir) . Perjalanan Tumpang ke Ranu pani membutuhkan waktu sekitar 4–5 jam.

Ranu Pani (2000 m dpl) adalah sebuah dusun terahkir perjalanan bermotor dengan luas 279 Ha. Ditempat ini terdapat Pos Pemeriksaan Pendaki Gunung dan fasilitas yang ada berupa Pondok Pendaki, Pondok Penelitian, Pusat Informasi dan Kantor Resort, Wisma Cinta Alam, Wisma tamu dan Bangunan Pengelola.

Ditengah perkampungan Ranu Pani terdapat Danau (Ranu) Pani yang merupakan kawasan wisata yang mengasikan. Aktivitas memancing dan berjalan mengelilingi danau merupakan pengalaman yang terkesan. Dari Ranu Pani bila kita berjalan menyusuri jalan setapak lurus akan sampai di Ranu Regulo. (15 menit). Di Pos Ranu Pani kita juga dapat melakukan proses perijinan tetapi lebih baik perijinan dari kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jl. Raden Intan No. 6 Malang 65100 telp. 0341 – 491828.

Dari Ranu Pani perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan beraspal sepanjang ½ kilometer menuju jalan setapak pendakian menuju ke Ranu Kumbolo (2.390 m dpl). Melewati tanah pertanian daerah Watu Rejeng perjalanan menanjak di mulai. Disekitar perjalanan jalan ada yang tertutup oleh pohon tumbang/roboh ke jalan sehingga sesekali kita merayap di bawah tumbuhan rubuh. Nuansa perjalanan banyak dijumpai penduduk yang mencari kayu bakar serta burung di sepanjang route perjalanan. 

Jarak dari Ranu Pani ke Watu Rejeng sekitar 5 Km dengan waktu temput 90 menit. Lalu untuk sampai di Ranu Kumbolo membutuhkan waktu 90 menit dengan jarak 5 km. dan di Ranu Kumbolo kita bisa bermalam. Total Perjalanan dari Rani Pani Ke Ranu Kumbolo 3–4 jam perjalanan dengan jarak sekitar 10 Km.



Ranu Kumbolo (2.390 m dpl) merupakan lembah dan terdapat danau/ranu yang luasnya 12 ha. Daerah ini tempat peristirahatan yang memiliki pemandangan dan ekosistem dataran tinggi yang asli. Panorama alam di pagi hari akan lebih menakjubkan berupa sinar matahari yang terbit dari celah – celah bukit menunjukan warna – warni yang membuat di sekitar danau berwarna kemerah–merahan dan kekuningan, ditambah uap air diatas danau seakan-akan keluar dari danau tersebut. Fasilitas yang terdapat disini berupa Pondok Pendaki dan MCK untuk istirahat dan memasak serta berkemah. Di daerah ini terdapat Prasasti peninggalan jaman purbakala dn diduga merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit.

Dari Ranu Kumbolo kita bisa menuju ke Pangonan Cilik yang merupakan sebuah nama untuk kawasan padang rumput yang terletak di lembah Gunung Ayek-Ayek yang terletak tidak jauh dari Ranu Kumbolo. Asal usul tersebut oleh masyarakat setempat dikarenakan kawasan ini mirip dengan padang penggembalaan ternak (pangonan). Daya tarik dari kawasan ini merupakan lapangan yang relatif datar ditengah-tengah kawasan yang disekitarnya dengan konfigurasi berbukit-bukit gundul yang bercirikan rumput sebagai type ekosistem asli, sehingga memberikan daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.

Setelah dari Ranu Kumbolo perjalanan diteruskan ke Kalimati. Melewati Tanjakan Cinta, yang merupakan tanjakan yang lumayan memeras tenaga dan diteruskan melewati Savana Oro-oro ombo (30 menit). Daerah ini merupakan padang rumput luasnya + 100 Ha berada pada sebuah lembah yang dikelilingi bukit–bukit gundul dengan tipe ekosistem asli tumbuhan rumput, lokasinya berada dibagian atas tebing yang bersatu mengelilingi Ranu Kumbolo. Padang rumput ini mirip sebuah mangkuk dengan hamparan rumput yang berwarna kekuningan, kadang – kadang pada beberapa tempat terendam air hujan. 

Perjalanan diteruskan ke Cemoro Kandang memerlukan waktu sekitar 3–4 jam perjalanan pendakian dan diteruskan melewati Padang Rumput–Jambangan dan menuju ke Kalimati. Di sini kita dapat bermalam dengan fasilitas Pondok pendaki dan kebutuhan air untuk memesak dapat diambil dari Sumber Mani ( 15 Menit). Perjalanan dari Ranu Kumbolo menuju Kalimati memerlukan waktu sekitas 4-5 jam perjalanan pendakian.


View khatulistiwa.info in a larger map

Setelah dari Kalimati kita menuju ke Arcopodo (2-3 jam). Arcopodo merupakan daerah yang berada dilereng puncak Gunung Semeru dan dapat digunakan untuk mendirika tenda gumn mencapai puncak Mahameru. Pagi hari setelah bermalam dari Kalimati atau Arcopodo perjalanana pendakian kita lanjutkan menuju ke puncak Jonggring Saloko dengan melewati tanah berpasir dengan kemiringan hampir 60 – 70 derajat. Diperlukan kewaspadaan khusus dalam melewati medan ini karena banyak batu – batu yang longsor oleh angin atau pendaki di atas kita. Perjalanan Arcopodo ke Puncak membutuhkan waktu 3-4 jam perjalanan pendakian.
Puncak Mahameru atau Puncak Jonggring Saloko memiliki keunikan pada setiap 10 – 15 menit sekali menyemburkan abu dan batuan vulkanik yang didahului semburan asa berwarna hitam kelam membumbung tinggi ke angkasa raya seakan – akan menyelimuti seluruh puncak. Suhu di puncak Mahameru kadang–kadang 0–4 derajat celcius yang disertai kabut yang tebal dan badai angin.
Sebelum melakukan pendakian ke gunung semeru usahakan terlebih dahulu mencari infomasi ke Kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jl. Raden Intan No. 6 Malang 65100 Telp. 0341 – 491828 atau ke Organisasi Pencinta Alam misalnya IMPALA UNIBRAW, Jl. MT. Haryono 161 B (Kampus UNIBRAW) Malang Telp. 0341- 560576 atau OPA yang kamu kenal lainnya. Karena Pendakian ke Gunung Semeru tidak terus di buka atau sewaktu – waktu di tutup karena aktivitas kawah yang terus bergejolak atau ada kejadian alam disekitar jalur pendakian.
Usahakan perijinan dilakukan 3 hari sebelum pendakian via e–mail, surat atau titip ke OPA yang ada (yang dikenal). Hal ini dilakukan agar saat pendakian ramai tidak mendapatkan ijin setelah sampai lokasi pendakian.
Bila anda di puncak Mahameru usahakan jangan terlalu lama karena pada siang hari arah angin cenderung ke utara sehingga asap akan bergerak ke utara. Karena semburan asap bisa mengakibatkan keracunan dan gangguan pernapasan yang bisa berakibat meninggal seperti kejadiaan yang pernah terjadi di puncak ini.

Unduh Peta

Peta Topografi Semeru

Referensi

Global Volcanism Program
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Semeru - Wikipedia
Soe Hok Gie dan Gunung Semeru
www.khatulistiwa.info

Foto-foto

http://www.flickr.com/photos/fadilfb
http://www.flickr.com/photos/samatflickr
http://www.flickr.com/photos/tianyake

Senin, 10 Desember 2012

PERANAN BIOTEKNOLOGI DALAM BUDIDAYA IKAN HIAS DI INDONESIA




senin, 02 juli 2012 08:33
Di berbagai belahan dunia, bioteknologi merupakan tool yang terbukti mampu melipatgandakan produksi pangan secara efektif dengan target yang lebih terukur, mampu menciptakan produk yang berdaya saing, mengurangi biaya produksi, dan mengarahkan proses pengaruh intervensi manusia terhadap alam menjadi lebih ramah(Carman2010). Bioteknologi Indonesia ditantang untuk turut mewujudkan peningkatan produksi akuakultur nasional sebesar 353 persen yang dicanangkan pemerintah. Ketersediaan benih merupakan unsur mutlak dalam budidaya ikan hias.  Dalam perkembangannya yang pesat dewasa ini, induk dan benih ikan hias untuk pemenuhan kebutuhan pasar tidak cukup hanya dengan mengandalkan dari alam maupun budidaya secara tradisional.  Dalam budidaya ikan hias tidak hanya penyediaan induk dan benih yang cukup, namun juga sangat diperlukan mutu yang baik.  Oleh karena itu perlu didukung dengan teknologi pengembangbiakan secara buatan yang memanfaatkan prinsip-prinsip bioteknologi.
Menurut Sumantadinata (1988), batasan dari bioteknologi bidang akuakultur adalah memiliki cakupan yang luas, salah satu yang umum digunakan adalah suatu kegiatan menerapkan prinsip-prinsip ilmiah dan rekayasa dalam mengolah bahan dari unsur hayati untuk penyediaan barang dan jasa.  Dalam bidang budidaya ikan hias, khususnya dalam pembenihan, prinsip biologi adalah sebagai sarana upaya untuk penyediaan induk dan benih ikan hias yang berkualitas.
Ditinjau dari aspek budidaya ikan hias, peran dari bioteknologi dimulai dari pembenihan, yang meliputi pematangan gonad, pemijahan / pembuahan, dan pasca penetasan unuk menghasilkan benih.  Pematangan gonad terhadap induk-induk ikan hias berbeda-beda, yang pada umumnya dilakukan rangsangan agar segara matang kelamin, sedangkan pada tingkat larva dilakukan perubahan kelamin (sex reversal).  Tahap ovulasi atau pemijahan dapat dilakukan rangsangan juga dan manipulasi kromosom.  Aplikasi bioteknologi dalam budidaya ikan hias secara garis besar meliputi dua kelompok yaitu pematangan gonad dan fertilisasi.  Peranan bioteknologi dalam bidang budidaya ikan hias mempunyai cakupan yang lebih luas di antaranya adalah rekayasa lingkungan, rekayasa genetika (teknologi ekspresi protein, mikrosatelit, RFLP, QTL, proteomics, chips DNA, vaksin DNA, transgenik), penanggulangan penyakit, dan menejemen pakan.  Namun demikian aspek-aspek tersebut akan dipaparkan pada makalah yang lain.

Pematangan Gonad
Perkembangan gonad dan pemijahan ikan hias merupakan respon lingkungan secara alami.  Pada umumnya suhu, cahaya, musim, curah hujan merupakan faktor-faktor yang besar peranannya terhadap perkembangan gonad tersebut.  Hal tersebut dapat dilihat bahwa untuk ikan-ikan hias tertentu (botia, wild betta, gurami, sepat, dll) akan melimpah di alam pada musim-musim tertentu tetapi pada suatu waktu tidak ditemukan pada habitatnya.  Kondisi lingkungan yang demikian telah berhasil diteliti pada beberapa jenis ikan hias yang masih dan sedang dalam tahap domestikasi.  Namun demikian, banyak jenis ikan hias yang masih belum dapat dipijahkan secara alami sepenuhnya, seperti arwana, jenis catfish, tiger fish, tilan merah, sumpit, beberapa jenis rasbora, beberapa jenis wild betta, palmas, black gost, botia, balashark, dll).  Pada pengembangbiakan ikan-ikan hias tersebut perlu adanya rangsangan hormonal atau manipulasi hormon.  Fungsi dari hormon tersebut selain untuk pematangan gonad, juga dapat digunakan untuk perubahan fenotif kelamin pada tahap deferensiasi (larva).
Pengembangbiakan secara buatan untuk beberapa jenis ikan hias, pengelolaan gonad juga dimaksudkan untuk merangsang proses perkembangan telur atau oogenesis misalnya pada jenis sumpit, tilan, sidat hias, tiger fish, dan lain-lain.  Proses pembelahan sel-sel bakal telur secara mitosis sampai fase pembentukan folikel dapat berlangsung secara alami tanpa tergantung pada kelenjar hipofisa.  Akan tetapi proses vitelogenesis dikendalikan oleh kelenjar hipofisa dan estrogen (Sudradjat, 2007).  Oleh karena itu, untuk pematangan telur biasanya ditujukan pada proses vitelogenesis.  Menurut Sumantadinata (1988) menyatakan bahwa hormon gonadotropin dengan kadar karbohidrat tinggi dapat merangsang ovulasi.
Manipulasi hormon selanjutnya pada tahap penanganan gonad adalah rangsangan ovulasi atau pemijahan.  Menurut Zairin, 2003 menyatakan bahwa pengaruh lingkungan dapat merangsang pematangan akhir dari telur sebagai awal dari ovulasi.  Selanjutnya pemberian gonadotropin melalui suntikan ekstrak kelenjar hipofisa yang lebih dikenal dengan hipofisasi.  Berdasarkan penelitian terdahulu bahwa hipofisasi telah banyak memberikan manfaat terhadap pembenihan ikan-ikan konsumsi.  Namun demikian masih ditemukan beberapa masalah untuk dosis maupun sumber kelenjar hipofisanya.  Sumber Gonadotropin dapat berasal dari ikan, dapat pula berasal dari mamalia.  Sebagai contoh HCG (Human Chorionic Gonadotropin) yang diekstraksi dari urin wanita hamil.  Penggunaan dosis HCG lebih kecil dibandingkan hipofisa, dan dapat digunakan sebagai dosis tunggal maupun dapat dikombinasikan dengan ekstrak kelenjar hipofisa.
Penggunaan hormon selain tersebut di atas, juga merupakan penghubung antara hypotalamus dengan hipofisa.  Dekapeptida LH-RH (Lutenizing hormone – releasing hormone) sintetik telah dicoba terhadap beberapa jenis ikan peliharaan.  LH-RH dapat merangsang pemijahan ikan mola, big head, dan kowan (Harvey & Hoar, 1979).  Namun demikian untuk ikan hias belum dilakukan penelitian.  Gonadotropin merangsang biosintesis steroid 17a, 20 β Pg dalam follicular envelope, dan pematangan akhir telur didorong dengan hormon steroid.

Sex Reversal
Pada umumnya ikan hias bersifat seksual dimorfism, sangat mudah untuk membedakan jantan dan betina pada usia tertentu atau menginjak dewasa.  Selain dari penampilan untuk ikan hias jantan yang lebih menarik, warna lebih cerah dan bagus, juga kecepatan tumbuhnya, tingkah laku, bentuk, dan ukuran (rainbow, cupang, maskoki).  Berdasarkan sifat tersebut para pembudidaya, petani, pengusaha bahkan eksportirpun lebih menginginkan produksi ikan hias jantan jauh lebih banyak daripada ikan hias betina untuk ukuran jual, yang tentu saja harga ikan hias jantan jauh lebih mahal.  Sehubungan dengan tujuan tersebut, berbagai usaha dilakukan untuk memperoleh populasi benih ikan yang monosex.
Pembentukan monosex pada ikan hias dilakukan dengan beberapa perlakuan mulai dari perendaman hormon, oral, maupun dengan kromoson sex yaitu dengan gynogenesis dan androgenesis.  Selain itu juga pembentukan kelamin yang steril yaitu untuk menjadi individu yang triploid.  Pemberian perlakuan hormon harus dilakukan pada saat yang tepat.  Perlakuan optimun spesifik pada jenis ikan pada saat diferensiasi sex, yang masing-masing ikan uji berbeda-beda.  Hasil penelitian pada ikan guppy diferensiasi sex terjadi sesudah dilahirkan (ikan guppy melahirkan), oleh karena itu pemberian perlakuan hormon pada stadia embrio di dalam ovarium induknya, dan dilanjutkan pada saat sesudah larva satu hari (Sumantadinata, 1988).
Penelitian tentang sex reversal telah banyak dilakukan pada ikan-ikan konsumsi baik ikan nila maupun ikan mas dengan penggunaan hormon metiltestosteron.  Perlakuan yang dicobakan berupa perendaman maupun dicampur pada pakan, dan keberhasilkan sex reversal pada ikan-ikan konsumsi selama ini cukup baik pada dosis-dosis tertentu.  Untuk ikan hias masih perlu banyak dikaji tentang penelitian sex reversal, mengingat risiko ikan hias apabila digunakan perlakuan secara kimiawi relatif lebih kecil, karena ikan hias tidak dikonsumsi oleh manusia.  Penelitian yang sedang berlangsung di Balai Riset Ikan Hias pada tahun 2011 untuk ikan rainbow papua (Melanotaenia parva) dan hasilnya belum dapat dilaporkan.

Manipulasi Kromosom
Manipulasi kromosom dilakukan pada pembuahan yaitu proses penggabungan gamet jantan dan betina untuk membentuk zigot. Pada proses tersebut homologous kromosom pecah pada tahap pembelahan meiosis, dan kemudian bergabung (Rieger et al., 1979). Pada proses ini dapat dilakukan rekayasa genetika dengan manipulasi kromosom.  Sebagian besar ikan hias pembuahan terjadi di luar tubuhnya, sehingga perlakuan kromosom secara buatan dapat dilakukan pada saat gamet belum dibuahi atau pada telur yang sudah dibuahi untuk fase-fase tertentu selama pembentukan zigot. Manipulasi kromosom yang dilakukan terdiri atas dua metode yaitu gynogenesis dan polyploidi.
Gynogenesis adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa kontribusi gamet jantan.  Gynogenesis alamiah merupakan suatu cara perkembangbiakan bagi beberapa jenis ikan hias antara lain molly (Poecilia formosa) dan beberapa populasi ikan maskoki (Carassius auratus) (Schultz, 1973).  Gynogenesis buatan dapat dilakukan dengan beberapa perlakuan pada tahapan pembuahan dan awal perkembangan embrio.  Diploidisasi dalam gynogenesis buatan dapat dilakukan dengan cara menahan pembentukan polar body II pada saat meiosis kedua, dan dengan cara penekanan pada saat pembelahan mitosis.  Proses ini dapat dilakukan dengan cara pemberian kejutan dingin, kejutan panas, dan kejutan tekanan (Purdon, 1983).  Perlakuan kejutan tersebut pada masing-masing jenis ikan hias berbeda-beda.
Teknologi gynogenesis memberikan kemungkinan untuk mempercepat waktu pemurnian dalam seleksi ikan hias.  Yaitu peningkatan homosigositas suatu populasi, yang derajat keberhasilannya dapat dicapai pada keturunan ginogenetik frekuensi silang pada saat meiosis.  Sebagian besar keberhasilan teknologi ini pada ikan-ikan konsumsi yaitu penelitian yang dilakukan oleh Gustiano (1985) terhadap ikan mas mendapatkan hasil larva ginogenetik sebesar 1% dengan perlakuan kejutan dingin yang diduga kurang tepat waktunya.  Penelitian Nagy (1978) terhadap ikan Cyprinus carpio mendapatkan larva ginogenetik sebesar 22,5%, sedangkan Gustiano (1988) melaporkan hasil penelitian terhadap ikan mas mendapatkan larva ginogenetik sebesar 45,1%.  Namun hasil tersebut masih rendah dibandingkan dengan penelitian Purdon (1969) sebesar 60%.  Pengaruh dari keberhasilan individu ginogenetik tersebut kemungkinan adalah lama waktu kejutan dingin yang diberikan.
Menurut Sumantadinata (1987) percobaan tentang gynogenesis terhadap beberapa jenis ikan telah dilakukan di Jurusan Budidaya IPB dan menunjukkan hasil sebagai berikut:
1. Interval waktu 2-4 menit diperlukan untuk menahan polar body II dan 40 – 45 menit digunakan untuk penekanan saat pembelahan mitosis pertama
2. Kejutan panas pada suhu 40oC dapat dilakukan selama 1,5 – 2 menit.
Hasil tersebut berbeda dengan percobaan yang telah dilakukan oleh Nagy et al. (1978) yang menunjukkan 5 – 15 menit sesudah pembuahan, sedangkan Tanaguchi et al. (1986) menyatakan 12 – 15 menit sesudah pembuahan pada mitosis pertama. Perbedaan hasil tersebut diduga karena perbedaan suhu dasar pembuahan sebelum kejutan panas atau kejutan dingin dilakukan (Sumantadinata, 1987).
Manipulasi kromosom pada ikan yang telah digunakan selain gynogenesis adalah poliploidisasi.  Poliploidi adalah suatu proses atau kejadian terbentuknya individu yang poliploid.  Yang dimaksud dengan poliploid adalah somatik sel yang mempunyai tiga (triploid), empat (tetraploid), lima (pentaploid) atau lebih set kromosom (Rieger et al., 1976).  Metode poliploidisasi dapat dilakukan seperti rangsangan diploidisasi pada gynogenesis buatan, namun merupakan kelanjutan dari pembuatan secara normal.  Triploid dapat dilakukan dengan memberikan kejutan pada telur yang dibuahi secara normal pada saat meiosis kedua.  Pada tetraploid kejutan dilakukan pada saat mitosis pertama.  Evaluasi keberhasilan terhadap poliploidi dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya adalah analisis kromosom, pengukuran jumlah DNA, pengukuran besar inti dan jumlah sel darah merah (Wolters et al., 1982 dalam Risnandar, 2001).
Gambar 1. Metode poliploidisasi.
Poliploidisasi merupakan salah satu metode manipulasi kromosom untuk perbaikan dan peningkatan kualitas genetik ikan guna menghasilkan benih-benih ikan yang mempunyai keunggulan, antara lain: pertumbuhan cepat, toleransi terhadap lingkungan dan resisten terhadap penyakit. Induksi poliploid dalam budidaya ikan sangat menarik perhatian masyarakat petani ikan maupun para peneliti dibidang perikanan. Poliploidisasi pada ikan dapat dilakukan melalui perlakuan secara fisik seperti melakukan kejutan (shocking) suhu baik panas maupun dingin, pressure (hydrostatic pressure) dan atau secara kimiawi untuk mencegah peloncatan polar body II atau pembelahan sel pertama pada telur terfertilisasi (Thorgaard, 1983; Yamazaki, 1983; Carman et al., 1992; Shepperd dan Bromage, 1996 dalam Mukti, 2001 ) (Gambar 1)Triploidisasi merupakan salah satu bagian dari ploidisasi dengan proses atau kejadian terbentuknya individu dengan kromosom lebih dari dua set. Triploidisasi telah dilakukan dan digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan. Aplikasi metode ini sangat cocok pada ikan koi, yang dapat meningkatkan perkembangan otot dari ikan koi tersebut, karena salah satu tingginya kualitas pada ikan koi adalah kekeran otot dan bentuknya.
Penulis : Eni Kusrini
Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok